Catatan Goal.com: Evaluasi Paruh Musim Superliga 09/10
Goal.com - Putaran pertama kompetisi Superliga 2009/10 tinggal menyisahkan satu pertandingan antara Persija Jakarta kontra Persela Lamongan, sebelum memasuki masa jeda kompetisi jelang putaran kedua.
Duel ini sendiri sedianya sudah digelar beberapa waktu lalu, tapi karena terbentur masalah izin menggelar pertandingan di ibukota, sehingga laga ini pun ditunda dan baru bisa dilaksanakan pada pada pekan ini.
Sekilas, PT Liga Indonesia (Liga) selaku pelaksana regulasi kompetisi sepakbola non amatir di tanah air, telah menyelesaikan satu tahapan pekerjaan seiring dengan selesai bergulirnya kompetisi putaran pertama.
Menurut CEO PT Liga Indonesia (Liga) Joko Driyono, putaran pertama kompetisi Superliga musim ini terjadi penurunan produktivitas gol. Jika pada paruh musim lalu, kata Joko, dari 117 pertandingan terjadi 309 gol, untuk separuh musim ini masih di bawah 300 gol.
“Sedangkan untuk pelanggaran pemain hampir sama. Musim lalu, tercatat wasit mengeluarkan kartu kuning 3,39 per pertandingan, sedangkan untuk setengah musim ini hanya 3,27 kartu kuning per laga. Untuk kartu merah, musim lalu tercatat 14 kartu dan setengah musim ini hanya 10 kartu,” tambah Joko.
Apa pun itu, hal ini merupakan satu capaian yang terbilang lumayan karena mampu menggulirkan kompetisi hingga putaran pertama selesai, meski di tengah catatan buruk yang mewarnai jalannya kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional musim ini.
Ya, setidaknya ada dua catatan penting yang harus dicermati Liga, sebelum kembali menggulirkan kompetisi putaran kedua, sesuai jadwal yang baru saja dirilis akan mulai digeber pada 9 Februari mendatang.
Tentunya dengan tidak mengabaikan hal lain seperti tarik menarik klub dengan timnas, krisis finansial yang melanda hampir semua klub, kelayakan venue tempat menggelar pertandingan, pemadatan jadwal kompetisi yang membuat kualitas pertandingan menurun, dan lain sebagainya.
Dua catatan penting itu adalah masih belum baiknya kinerja pengadil lapangan hijau dalam hal ini wasit serta masalah perizinan, yang sering menjadi sandungan dalam upaya menggulirkan kompetisi sesuai jadwal yang ditetapkan.
Bicara kinerja wasit, memang tidak sepenuhnya jelek. Tapi dari catatan yang diperoleh, masih ada saja yang gagal menjalankan tugas dengan baik, sehingga sering menimbulkan protes dari klub yang merasa dirugikan.
Terutama menyangkut keputusan penalti dan offsite, serta kurang tegas dalam memimpin pertandingan, yang membuat banyak pelanggaran keras yang mestinya diganjar kartu, tapi diloloskan dan sebaliknya.
Sementara itu, menyangkut perizinan, tampaknya menjadi problem tersendiri bagi pelaksanaan kompetisi Superliga musim ini, karena mengacaukan jadwal yang telah disusun. Termasuk waktu berakhirnya kompetisi.
Tapi, jika kita melihat lebih jauh masalah perizinan ini, sangat erat hubungannya dengan sikap arogan dan anarkis suporter. Sebab aparat keamanan jelas tidak ingin mengambil risiko memberikan izin, mengingat kerusuhan di sepakbola selalu sulit dikendalikan.
Karena itu, selama sikap suporter masih belum “dewasa” dalam memberikan dukungan kepada tim kebanggaannya, kita jangan pernah berharap masalah izin menggelar pertandingan sepakbola di tanah air akan segera beres.
Apa yang dilakukan Bonek, sebutan bagi suporter fanatik Persebaya Surabaya, saat mengikuti timnya away ke kandang Persib Bandung dengan menggunakan kereta api beberapa waktu lalu, adalah salah satu bukti belum adanya kesadaran bagaimana sesungguhnya sikap suporter yang baik itu.
Akankah semua catatan miris ini kembali terjadi di putaran kedua? Kita masih akan melihat perkembangan berikutnya. Yang pasti, putaran pertama kompetisi Superliga musim ini masih menyisahkan banyak catatan yang mesti diperbaiki, demi kemajuan sepakbola Indonesia.

